When I was a kid, I had my own fantasy. Just like the other kids, it was a fantasy which is really unrealistic yet fun. I always dreamt of being a mutant, just like X-Men. Having sharp claws, reading others’ mind, and other stuffs that I really adored is my mere hope though it sounds kinda weird. But hey, I was a kid :p

In X-Men itself, the mutant becomes minor group where they have to survive within the situation that push them in the corner of society (human one). They indeed are divided into two sides. One becomes the protagonist. Those who become protagonist are Mr.X, Cyclops, Wolverine, Storm, etc. And the other who is bad guy alliance. They are Magneto, Mystique, etc (well, I ain’t a bad guys fan so I am just able to mention two). I did have a fantasy which I had one of those powers to kick ass people that I hate.

Well actually this fantasy still remains until now even though I have “2” for my fore age number. But the difference is the though between what this movie projects as fiction one and what its relation with the real minor group in America (well, then i was thinking that it doesn't only happen in America, but i just want to specify it).

As I mention above that this movie tells about distinguished people who have special ability that doesn’t exist in normal humans. That is what I mean with the message of this movie as fiction one. Since we know that so far, there are no scientists saying that these creatures (mutants) exist. It is just a movie to amuse public. Therefore, it entertains those who somewhat love fiction (such as me).

However beyond the message telling that it is fiction movie, I believe that there is something behind that, something that could be the image of America (since it comes from America). Let us see what this movie displays about mutants as minority. I see that it could be the common issue with the “real” minority in America. Yes, we’re talking about Blacks, Chicanos, gay, and their friends. If we look back in history, we will find out that there were movements acted by those communities. There were Malcolm X, Virginia Wolff, and Milk. Those are people who wanted to stand up on their own ground and stated that though they weren’t as much as the majority groups but still they have rights to pursue their dream. This could be in the same way with the explicit issues in X-Men.

In X-Men, we could see the movement from mutants though it is in diplomatic way or even in radical one. I say diplomatic since there are mutants such as Jean Grey and Mr. X who try to set their community in the same level with human’s. In X-Men I, we see the scene where Jean was having a forum with human debating and negotiating about mutant’s rights. We could see as well in X-Men III which there is Beast as Mutant Ministry. It shows us that these mutants want to have the same rights with human and delete the strata of society in a way to avoid war and victims. And as we know that the women movement had similarities point with this one, there were some American female writers who tried to break the women discrimination at that time. They wrote to speak what they couldn’t express. In the other hand, we also have mutants who want to dominate and hold the supreme in a radical way. Of course they are the antagonist ones. They do whatever it takes in order to put their society above human being. They lost a fight to pursue what they’ve dreamt of.

However, I couldn’t stop thinking of what really happens in our society. What should be spoken is sometimes forbidden. There might be an opinion that there will be brighter day for everybody. But I just don’t find that shiny and promising path for those minority groups. Hopefully it is about the time to wait that moment. A moment to make a move.

Manusia selalu saja mangguman atas apa yang mereka dapatkan selama ini. Saat mereka diberi suatu kehangatan matahari, mereka akan mengeluh kepanasan dan mengidamkan suasana yang dingin. Saat mereka diberi hujan, mereka juga akan mengkomplain keadaan yang ada dan menginginkan keadaan yang sebaliknya yaitu panas. Why do people always keep grumbling about what they got? Especially for something that is against of what they get.

Itu merupakan sebuah pertanyaan retorika yang pasti semua orang tahu bahwa manusia tak pernah puas dengan apa yang didapatkannya. Akan tetapi kepuasan apa yang mereka cari? Apakah nilai kepuasan bisa didapat ketika kita mendapatkan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sekarang? Dan apakah kepuasan selalu bertentangan dengan rasa syukur? Memang rasa syukur merupakan sifat fundamental yang seharusnya dimiliki setiap orang. Namun pada kenyataannya setiap orang pasti ingin “lebih” dari lebih. Sayangnya apabila “lebih” tersebut bertolak belakang dengan apa yang menjadi situasi saat ini.

Itulah mengapa saya selalu bingung dengan keadaan zaman sekarang. Saat diberi hujan, justru meminta panas. Saat diberi pacar, justru mencari selingkuhan. Saat diberi pekerjaan, justru ber-leha-leha. Semua itu merupakan hal yang jelas-jelas berseberangan dengan apa yang didapat sebelumnya. Lalu apa yang mereka cari dari dua hal yang bertolak belakang tersebut? Apakah itu adalah kepuasan batin mereka? Atau itu merupakan ekspresi ketidaktertarikan mereka atas apa yang mereka dapatkan?

Entahlah

Semua itu hanya sebuah keadaan kecil dari beberapa spesies manusia yang masih hidup di bumi ini. Toh, masih banyak juga dari mereka yang merasa bersyukur dan puas atas apa yang mereka dapatkan selama ini tanpa meminta kepada Tuhan atau pihak manapun sesuatu yang bertolak belakang dari apa yang mereka dapatkan selama ini.

Manusia selalu saja mangguman atas apa yang mereka dapatkan selama ini. Saat mereka diberi suatu kehangatan matahari, mereka akan mengeluh kepanasan dan mengidamkan suasana yang dingin. Saat mereka diberi hujan, mereka juga akan mengkomplain keadaan yang ada dan menginginkan keadaan yang sebaliknya yaitu panas. Why do people always keep grumbling about what they got? Especially for something that is against of what they get.
Itu merupakan sebuah pertanyaan retorika yang pasti semua orang tahu bahwa manusia tak pernah puas dengan apa yang didapatkannya. Akan tetapi kepuasan apa yang mereka cari? Apakah nilai kepuasan bisa didapat ketika kita mendapatkan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sekarang? Dan apakah kepuasan selalu bertentangan dengan rasa syukur? Memang rasa syukur merupakan sifat fundamental yang seharusnya dimiliki setiap orang. Namun pada kenyataannya setiap orang pasti ingin lebih dari lebih. Sayangnya apabila lebih tersebut bertolak belakang dengan apa yang menjadi situasi saat ini.
Itulah mengapa saya selalu bingung dengan keadaan zaman sekarang. Saat diberi hujan, justru meminta panas. Saat diberi pacar, justru mencari selingkuhan. Saat diberi pekerjaan, justru ber-leha-leha. Semua itu merupakan hal yang jelas-jelas berseberangan dengan apa yang didapat sebelumnya. Lalu apa yang mereka cari dari dua hal yang bertolak belakang tersebut? Apakah itu adalah kepuasan batin mereka? Atau itu merupakan ekspresi ketidaktertarikan mereka atas apa yang mereka dapatkan?
Entahlah
Semua itu hanya sebuah keadaan kecil dari beberapa spesies manusia yang masih hidup di bumi ini. Toh, masih banyak juga dari mereka yang merasa bersyukur dan puas atas apa yang mereka dapatkan selama ini tanpa meminta kepada Tuhan atau pihak manapun sesuatu yang bertolak belakang dari apa yang mereka dapatkan selama ini.

Label:

Sebuah kesempatan yang langka saat saya beserta teman-teman finalis Mas Dan Mbak Jawa Tengah bisa mengunjungi sebuah perusahaan jamu terkemuka di Indonesia yaitu Jamu Cap Nyonya Meneer. Saat memasuki gedung tersebut, PR dari Nyonya Meneer menjelaskan bahwa paling tidak jumlah karyawan wanitanya adalah 70% dari total jumlah karyawan yang ada.


Wow, it is such a huge number of female workers for a noted company, huh?


Nah dari sanalah pemikiran awal dari penulisan ini. PR dari Nyonya Meneer menjelaskan bahwa dia juga tidak tahu menahu mengenai adanya “tirani” yang mempekerjakan wanita dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini membuat saya berpikir “Tidakkah ada semacam paham feminisme liberal yang perusahaan tersebut tanamkan dalam pengelolaan karyawannya?”
Mungkin sebagian orang akan berpikir ini merupakan pemikiran yang mengada-ada atau berlebihan mengingat tidak adannya bukti nyata. Akan tetapi bagi saya bukti nyata tersebut sudah jelas terpampang bahkan saat kami keluar dari area perusahaan tersebut. Satpamnya aja cewe bo’.
Dengan jumlah yang cukup banyak, tentunya perusahaan itu juga membantu mengangkat derajat wanita. Kenapa bisa?
Let us see, Emma Goldman dalam bukunya The Traffic in Women and Other Essays menjelaskan bahwa salah satu alasan wanita menjadi pelacur adalah karena mudahnya mendapatkan uang hanya dengan menjual diri. Mereka berfikir bahwa jika hanya dengan menjual diri saja bisa mendapatkan uang maka hal inilah yang akan mereka lakukan. Jika kita hubungkan denga keadaan ini maka akan kita dapatkan fakta bahwa dengan Nyonya Meneer mengangkat dan menyelamatkan keadaan wanita. Dengan membuka lowongan pekerjaan tersebut wanita akan selamat dari prostitusi. Hal inilah yang saya coba tegaskan dalam tulisan saya.
Saat menuju hotel Horizon, tempat kami dikarantina, saya sempat mengemukakan pendapat tersebut kepada teman semobil saya. Namun respon mereka justru menganggap pemikiran saya terlalu jauh dan ribet.
Uhm, bagi saya hal ini bukan sesuatu yang ribet, diada-ada, atau tidak jelas asal mulanya. Karena apapun paham yang secara sadar atau tidak sadar ditanamkan dalam perusahaan tersebut, saya acungkan jempol!!! Mengingat jumlah wanita yang ada semakin banyak dan tentunya harus diimbangi dengan peluang pekerjaan juga yang sejajar dengan jumlah yang ada.
Oleh karena itu, apapun alasan Nyonya Meneer mempekerjakan wanita dengan jumlah sebanyak itu sangat saya hargai dan apresiasi.
Selamatkan wanita Indonesia dari kemiskinan dan tentunya prostitusi.
Maju terus wanita Indonesia.



Tyra Banks adalah seorang super model yang WWOOOOWWW!!! Gosh! She’s over 40 but still rocks. Dan seperti yang kita tahu bahwa dia disibukkan dengan menjadi host serta executive producer di America’s Next Top Model. Sebuah acara pencarian model papan atas yang berskala nasional (Amerika). Dengan adanya acara ini sudah banyak wanita Amerika yang berlomba untuk berada dalam acara tersebut. Tentunya bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam acara ini harus memenuhi kriteria tertentu seperti tinggi badan yang tidak boleh di bawah 5’7” (sekitar 173 cm) walau ada satu episode khusus dimana kontestannya mimiliki tinggi tidak lebih dari 5’7” (cycle 13).

Para kontestan benar-benar berusaha keras untuk mendapat gelar tersebut walau sadar ataupun tanpa sadar mereka telah menjadi sebuah tontonan menarik. Menarik karena kita bisa melihat mereka di make over, terlibat drama, menangis di dalam confession room, dan semua adegan yang membuat mereka “menjual” keberadaan mereka.



Saya sempat berpikir “Tidakkah ini semacam Eksploitasi Wanita?”

Pendapat saya tentunya tidak terlalu lebay jika kita kaitkan dengan beberapa kenyataan yang ada.

· Saat mereka di make over

Ini saat dimana mereka mendapat penampilan berbeda dari sebelumnya. Kadang penampilan yang kontestan dapat sesuai dengan yang ia inginkan meski lebih banyak dari mereka yang komplain dengan hasil make over tersebut. Disini saya lihat para kontestan menjadi “kelinci percobaan” bagi hairstylist. Ingatkah kalian dengan Brenda di Season 14 dimana tampilannya akhirnya dirubah karena dianggap terlalu tua setelah ia melakukan make over.

· Saat mereka terlibat drama

Here you are. Bagian terfavorit saya selain photo shoot. Dimana terjadi cat fight. Tapi yang jadi masalah, sadarkah yang mereka bahwa saat mereka terlibat drama baik itu berupa percecokan, pengumpatan, atau mungkin perkelahian sebenarnya mereka menjadi sebuah tontona yang mengasyikkan. Tentu saja mengasyikkan jika dibanding dengan sinetron-sinetron Indonesia. Tapi saya yakin bahwa bagian drama itu memang berbau unsur kapitalisme atau komersalisme. Jika memang tidak mengandung unsur tersebut, untuk apa ditayangkan hayooo???




gambar di samping adalah Brenda (cycle 14) yang sedang adu mulut dengan kontestan lain (kalau tidak salah Angelea)






· Saat mereka curhat dalam confession room

Jangan pikir drama yang ada selesai sampai disitu. Di dalam tempat tinggal mereka disediakan sebuah ruangan untuk curhat. Disana mereka bisa curhat apa saja. Umumnya yang mereka curhatkan adalah drama yang terjadi di tempat mereka tinggal. Untuk apa ditayangkan? Kalau bukan untuk menarik penonton. Sekali lagi, mereka adalah objeknya dan kita adalah subjeknya yang melihat kelakuan mereka di depan kamera.

· Bukan maksud sok tahu, tapi siapa alumni ANTM yang benar-benar menjadi seorang TOP Model?

Ini yang menjadi pemikiran terakhir saya. Bagi saya belum ada lulusan ANTM yang benar-benar menjadi TOP model. Jadi bisa diasumsikan bahwa apa yang menjadi fokus bagi produser adalah saat mereka menjabat sebagai kontestan. Setelah selesai mereka tetap menjadi model dan berkarir, tapi mana TOPnya?

Setelah menilik semua bukti-bukti yang ada, saya berpendapat mungkin ini ada hubungannya dengan Marxist Feminism. Dimana wanita menjadi pusat dari “korban” kapitalisme. Ini bukti bahwa kapitalisme benar-benar ada dalam acara ini.

Tetapi dibalik itu semua, kita tahu bahwa itu adalah sebuah acara dan mereka (para kontestan) bersedia melakukannya.

Jadi jika mereka mau, kenapa tidak?

Particularly in the West, women are exploited not only in literature but also in economic and social conditions (Bressler, :151).

Hari itu, Kamis tanggal 12 Agustus 2010 merupakan hari yang sangat melelahkan serta panas. Yah, mungkin ini bisa saja hanya mendapat predikat hari panas tetapi bukan melelahkan jika tidak karena puasa dan sibuk mondar-mandir mencari informasi tentang salah satu tempat magang yang akan menjadi tujuan saya dan teman-teman saya kelak. Saya, Widyawati, dan Soraya Hetami adalah sekelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang sedang mencari informasi mengenai sistem magang kerja di TIC (Tourism Information Center) yang bertempat di Jalan Pemuda (nomernya saya lupa, maaf. Pokoknya samping SMA 3 persis lah). Alasan mengapa saya dan teman-teman saya ingin mencoba di tempat tersebut adalah mungkin kita bisa mengembangkan ilmu bahasa Inggris kita yang standar-standar saja serta mungkin bisa jadi musketeers untuk generasi berikutnya yang ingin magang disana.
Begitu saya sampai disana, saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu wanita yang juga magang disana. Bukan sebuah pembicaraan yang signifikan sebenarnya, hanya sebatas basa-basi untuk menyegarkan badan di bulan puasa ini. Sampai akhirnya kita bertemu dengan seseorang dari TIC dan berbincang-bincang dengan beliau. Beliau menyarankan kepada kami untuk pergi ke Dinas Pariwisata Tingkat Propinsi jikalau kita ingin mendaftarkan diri sebagai pemagang kerja dan bertemu dengan seseorang di Bagian Umum. Hal ini disebabkan karena dari TIC sendiri hanya bisa merekrut orang melalui Dinas Pariwisata. Ok I C!!!
Tibalah kita di Dinas Pariwisata Propinsi yang berjarak tidak lebih dari 300 meter dari TIC. Disana kita bertemu dengan seseorang pria yang memberikan pengarahan lebih lanjut untuk magang disana. Alangkah kaget dan shocked serta bingung, dicampur jadi satu dengan kebodohan kami bertiga saat mendengar pertanyaan dari orang tersebut, ”Judul laporannya apa dik?” Sontak kami diam sesaat. Widya yang biasanya paling banyak cakap diantara kita juga diam. Saya mencoba menjadi sosok Leonardo DeCaprio dalam film Inception yang calm dan mencoba bertanya mengenai pertanyaan bapak tersebut. Dan ternyata setelah penjelasan yang cukup jelas dapi orang tersebut, kita mengetahui bahwa jika ingin magang di tempat tersebut kita harus memiliki judul laporang kita. Paling tidak JUDUL.
Setelah mendapat penyegaran visi ke depan dari orang tersebut, kami menginggalkan nama serta nomer hp yang bisa dihubungi. Alangkah kagetnya kami saat mengetahui dalam daftar buku yang akan kami isi dengan nama kami terdapat pula nama Wilda Nurul Umami dan Vita Rosalia. Keduanya adalah teman sekelas kami. Bincang punya bincang, akhirnya kami selesai mengobrol dengan orang dari dinas tersebut dan kami diperbolehkan meninggalkan ruangan dengan satu catatan, jika kita ingin magan disana kami harus kembali lagi dan menyerahkan JUDUL yang akan jadi laporan magang kami.
Keluar dari ruangan Widya benar-benar panik. Omongannya ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Saya mengajak mereka duduk untuk sekedar mengobrolkan masalah ini. Sampai disini, kami mecoba menelaah mengenai masalah JUDUL tersebut.
JUDUL
Tidak pernah terbesit dalam pikiran salah satu dari kita bertiga untuk sekedar mendapat ilham mengenai JUDUL tersebut.
Ya, semua itu memang harus ada judul, kalau tidak ada, ya nanti dikira film bokep deh. :p
However, that’s nit the point that I want to spot. Permasalahannya adalah bahwa kita harus memahami apa yang kita lakukan dari awal. Pemberian judul bukan hanya sesuatu yang formal adanya. Hal itu merupakan semacam vision kita ke depan. Pemberian judul sejatinya bukan hanya untuk essai atau laporan pekerjaan tetapi juga saat kita mau memasuki sebuah institusi atau bekerja. Terlebih, judul merupakan acuan kita untuk melangkah ke depan. Bukan hanya dalam sebuah tugas, tetapi lebih general lagi juga menyangkut hidup.
Judul memberikan kita visi.
Judul memberikan kita tujuan
Judul menahan kita pada batas-batas tertentu agar tidak pergi tidak jelas entah kemana.

So, have u decided about your title in your Life?

Recently, there was held an award called Emmy Award. This award is given for those who work in television industry. Just like any other awards, there must be Red Carpet moment. This is just like a celebrity runaway. They dress up, use make up, and ready to heat up the cameras and pers. Then, when they get all these things, they are as if racing to get the front row of attention on red carpet. Looking stunning and getting the full appreciation are the goals. So both men and women are trying to get the cameras’ leading role. It’s all about H 2 T (Head To Toe).

For women, edgy, or sophisticated dress are some choices that can be wore on red carpet. However fabulous dress ain’t enough! Make up and hair do are other crucial parts. In this case, some work and some fail. But if we can see them all or if they stand up in a row, then we’ll find different types and colors of dresses. It’s just a rainbow; colorful and unique. If we can conclude about these women’s dresses, they all can express what they want by choosing dresses (let us put aside about whether the dress is glamorous or horrible). Thus, women can dress more varieties.

But what about the men? Here’s the fact, most of the men on red carpet wear Tuxedo (maybe all of them). And it seems that men are bounded to dress up. Though men can make some variation on tuxedo, still they will be judged unfair. Why do I call it unfair? Just look at Neil Patrick Harris dressing up on this Emmy. What’s wrong? The color? Or the model? I think the color and model are fine. But some people said the opposite side from me. Joan Rivers, one of the Fashion Police said it’s horrible one and she with the other judge gave him The Worst Male Dress. Rivers stated that if you wear tuxedo, just keep it simple. How could she say that? I mean we are living in 2010. If she and the others keep talking that if we wear tuxedo then make it simple, then the question is when it would be last? I think it’s time for male to break the rule in wearing the tuxedo. Just look at Adam Lambert in D&G. wow!! That’s freaking awesome dude!!! He looked great in blinked tuxedo. He’s just one of the men who ready to step up and break the rules of wearing tuxedo. So in the end, I’ll say that Just because we are men doesn’t mean that we can’t look different, colorful, and brave while wearing tuxedo.


Adam Lambert looking gorgeous, right? He's brave enough to break the rules of old typed tuxedo













Harris, on right and left side